Masuk

Ingat Saya

Indonesia butuh guru yang berkualitas

Kualitas sebuah negara salah satu nya dapat dilihat dari aspek pendidikan. Apabila pendidikan di suatu negara tersebut belum berkualitas atau tidak berkualitas maka nantinya akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas “bawahan”. Atas dasar ini pertanyaan vitalnya” apakah nantinya SDM kita dapat bersaing dengan persaingan global yang akan menuntut keahlian, kreatifitas dan keprofesionalan sehingga SDM kita tahan banting dan berkualitas dimata dunia?

Kita telisik di negara kita, saat ini pendidikan yang ada di Indonesia ini dirasa belum memiliki gebrakan yang “wah” yang dapat mengambil alih pandangan dunia atas pendidikan kita. Pendidikan kita masih biasa-biasa saja. Ada beberapa penyebab yang melatarbelakangi hal ini. Saat ini akan kita lihat dan bahas dari segi agen nya yaitu seorang guru. Guru kita di Indonesia saat ini masih memiliki banyak sekali problema, salah satu nya para guru belum melek teknologi dan menerima kemajuan-kemajuan zaman, akibatnya para guru tidak bergerak maju melainkan hanya diam ditempat bahkan dapat dikatakan mundur. Realitasnya guru kita baik yang guru senior maupun guru baru atau junior belum dapat menguasai teknologi modern.

Contohnya, di era saat ini, dewasa ini, abad 21 telah terjadi perkembangan teknologi besar-besaran oleh dunia yang ditandai dengan berkembangnya teknologi alat kerja pembantu manusia, komputer, dan jaringan. Dapat kita lihat para guru seolah menutup mata atas hal ini dan lebih memilih zona nyaman yaitu salah satunya menyampaikan pengetahuan hanya dengan ceramah saja. Hal ini mengakibatkan perkembangan para siswa tidak maksimal dan tidak berkembang dengan optimal baik dari ranah kognitif, afektif dan psikomotorik yang sejalan dengan Perkembangan IPTEK.

Atas dasar itu guru pun dituntut mau tidak mau harus ikut serta atau mengikuti perkembangan perkembangan dunia yang terjadi saat ini agar para guru tidak dikatakan sebagai guru “kuper” atau sebutan-sebutan lainnya. Sekarang saatnya kita telisik guru-guru di Indonesia mengapa kualitas pendidikan kita ini masih banyak yang belum berkualitas.

  1. Salah alamat

Salah alamat yang dimaksud disini yaitu guru yang menjadi guru saat ini, kebanyakan awal nya mereka adalah mahasiswa yang salah alamat dalam artian mereka dahulu nya berniat kuliah atau studi jenjang tinggi di jurusan kedokteran atau psikologi misalkan, tetapi nyata nya mereka malah diterima di jurusan pendidikan yang nantinya akan diterjunkan menjadi seorang guru. Hal itulah yang menjadikan seorang mahasiswa itu dalam studinya tidak maksimal bahkan kuliah itu hanya dijadikan sebagai formalitas. Inilah yang menjadi cikal bakal guru yang kurang berkualitas atau tidak berkualitas dan tidak profesional (tidak menguasai bidang keilmuan yang diampu oleh dirinya).

  1. Miskin teknologi, inovasi dan pengembangan.

Di era globalisasi saat ini, tuntutan penguasaan media media canggih dan modern merupakan suatu hal yang vital. Penyampaian pengetahuan jika hanya melalui metode lama atau tradisional misalkan ceramah, maka pembelajaran akan terasa membosankan dan sulit untuk berkembang.

Atas dasar itu, guru dituntut untuk dapat menguasai teknologi modern, melakukan inovasi-inovasi pembelajaran melalui media berbasis ICT dan selalu mengembangkan pengetahuan-pengetahuan berbasis teknologi. Dapat kita perkirakan dari sekarang bahwa dalam 10 tahun ke depaan, peradaban dunia akan dikuasai teknologi modern yang saat ini cikal bakal nya sudah terlihat dalam kehidupan kita teknologi mulai berkembang pesat.

  1. Sekedar mengajar

Paradigma guru saat ini didasarkan pada asumsi bahwa tugas guru saat ini adalah yang penting mereka ( para guru ini) sudah menyampaikan pengetahuan yang ia kuasai. Parahnya lagi fokus guru pada saat ini bukan lagi pada bagaiman mereka akan mengajarkan pengetahuan kepada siswa, tetapi dapat kita lihat realitasnya bahwa guru saat ini fokusnya kepada bagaimana caranya mereka harus bisa mendapatkan tunjangan sertifikasi. Saat ini mereka tidak punya anggapan bahwa mereka harus terus mengawasi dan meningkatkan perkembangan pengetahuan dan emosionalnya melalui pengajaran yang maksimal di seluruh aspek nya yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik sehingga para siswa menjadi manusia yang utuh.

Upaya yang seharusnya dilakukan oleh para guru dalam megembangkan tiga aspek ini (kognitif, afektif, psikomotorik) misalnya: Setelah guru menyamapikan materi pembelajaran, guru memberikan intruksi kepada siswa untuk menganalisis materi dengan kehidupan riil di masyarakat, mengajak mereka untuk melakukan/mempraktikkan suatu kegiatan dan siswa disuruh menyampaikan apa yang menjadi temuannya didepan kelas sehingga membuat mereka semakin terasah dan membuat mereka belajar mendengarkan-menghormati teman nya di depan. Ini termasuk menerapkan pendidikan karakter kepada mereka.

  1. Tidak mau mengembangkan keilmuan dan kompetensi (lagi)

Kepuasan karena telah menempuh dan lulus dari jenjang pendidikan tinggi, membuat mereka (para guru) cenderung merasa sudah finish dan dirasa cukup untuk menjadi seorang guru sehingga tidak ada kemauan untuk berkembang dan melanjutkan studi mereka lagi. Hal ini merupakan asumsi yang salah dan seharusnya dirubah oleh para guru.

Pengembangan-pengembangan harus terus dilakukan oleh para guru sebagai tindak lanjut keilmuan mereka agar para guru tidak tumpul pengetahuannya dan pengetahuan mereka merasa terus diperbaharui.

Itulah beberapa hal yang membuat pendidikan kita tidak berkembang dan belum memiliki kualitas yang baik. Untuk para guru, masihkah kalian tertidur dalam era modern ini dan sudah merasa puas dengan pengetahuan yang dimiliki? Pikirkan! Generasi cerdas Indonesia akan lahir dari kalian.

Artikel Pendidikan

Oleh: Nanda Nursyah Alam