Masuk

Ingat Saya

Belajar dari Caknun di zaman gendeng ini.

Mari merenung, sejenak. Menundukkan kepalamu, menghayati makna, makna tulisan dan makna kehidupan ini. Jangan terbalik- balik dalam mengarungi kehidupan ini.

Dadi menungso mbok yao sek bener tho, rek, ojo nyalah-nyalahke uwong liyo.

Mari menanyakan kelurusan niat dari apa yang telah dilakukan.

-“Bermanfaat disek, baru golek (duit) uang.”

Narasi zaman: Akeh menungso golek duit, baru mikir bermanfaat kanggo wong liyo. Akeh menungso menjajah duit seakeh-akehe (sebanyak-banyaknya), baru gawe sekolah, panti asuhan seolah olah Gusti Allah iku iso dikibuli kanggo cara iku. Dadi, sek penting lan didahulukan iku manfaat kanggo wong liyo, terus pasti duit teko dewe (akan datang sendiri).

–  “Gawe Apik (Berbuat baik) iku ra perlu tujuan”

Narasi zaman: Gawe Apik iku ora nganggo tujuan. Kalau Gawe Apik tujuanne, ya Gawe Apik, titik. Kalau mbantu wong liyo, ya mbantu wong, kalau ngawehi (memberi) orang, ya, titik; kalau melu thariqat itu, ya, melu thariqat dudu supaya labanya luwih gedi (lebih besar), pangkat e luwih munggah (lebih naik). Ibadah iku, Ya, ibadah; iku sedekah dewe maring Gusti Allah Swt,. Ora nganggo tujuan sek liyo (Tidak pakai tujuan yang lainnya).

–  “Agama adalah output sosial”

Narasi zaman: “Jangan pula menyembah shalat, yaitu ketika anda rajin shalat, anda menjadikan shalat itu untuk umuk/ menyombongi orrang lain yang belum shalat atau tidak shalat. Sangat mungkin akan batal shalat anda. Shalat itu jangan dijadikan bahan untuk kebangggaan sosial. Dan, sesungguhnya, yang ditunggu orang adalah output sosial dari sholat anda. Maka, Sebenarnya masjid adalah ‘dapur rohani’ bagi anda dan masyarakat yang akan mengantarkan Anda menyuguhkan kebaikan sosial bagi masyarakat.

–  “Belajar focus dalam beribadah”

Narasi zaman: Fokus kita dalam beribadah itu pahala, menghindari neraka atau Allah? Surga atau Allah swt ? Nek fokus karo gusti Allah, Awakmu ra peduli arep ditempatkan disurga atau neraka. Ibaratnya begini: “Saya punya kebun manga, kemudian kamu datang ke kebun saya, mbantuin nyapu-nyapu dikebun saya, ndak minta manga. Justru yang khawatir adalah saya, sehingga saya pasti akan kasih kamu mangga yang banyak. Jadi, Shalat kamu itu menyembah Allah swt. atau pahala? Kamu sujud dihadapan Ka’bah itu sujud kepada Ka’bah atau Allah Swt.? Jadi, bodohlah orang yang mengutamakanb jasad.”

– Sedekah itu berbagi, bukan untuk berdagang.

Narasi zaman: “Sedekah iku ora ono hubunganne karo sugih (kaya) utowo miskin. Sedekah iku hubunganne yoiku berbagi rezeki. Anda punya uang 100 ribu, anda berikan ke orang lain 30 ribu, bagian anda 70 ribu. Kalau anda berharap 30 ribu itu berlipat ganda menjadi 300 ribu, itu bukan sedekah namanya, itu berdagang”. Paham? Makane dirubah niate. Dilurus ke.

 

Nanda nursyah Alam