Masuk

Ingat Saya

Merindukan wejangan yang mendamaikan

Saat menjalani kehidupan, tentulah banyak melewati dinamika dan liku kehidupan dunia. Disaat itulah jiwa menjadi terjal, tak menentu arah diombang ambing “angin kehidupan” yang begitu deras dan menghanyutkan. Disitulah wejangan diharapkan bagi manusia-manusia yang sedang dirundung masalah kehidupan itu agar mendapatkan pencerahan yang menyegarkan.

Wejangan ini dalam kehidupan saya, bukan timbul dari seorang motivator-motivator ataupun nasihat-nasihat teman. Saya merindukan wejangan dari wajah sepuh itu, wejangan dari tokoh karismatik dan mencerahkan “kyai”. Kyai bagi saya  adalah penerang jalan dan kehidupan bagaian lampu dalam kegelapan. Itu dari segi keilmuan, yang notabennya punya sanad keilmuan yang runtut sampai Nur Nya, Muhammad.

Tapi bagi saya wejangan dari kyai sangat penting dari segi hikmah dan nasihat-nasihat menyejukkannnya. Seperti kata pepatah bahwa orang terdahulu yang dituliskan dalam buku alala“ orang tua mendidik raga, guru mendidik jiwa”. Disitulah wejangan nya yang saya “bahasakan” dengan sangat ta’zim dengan beliau dengan kata “Kyai”. Wejangannya mengarahkan dan menuntut saya untuk menghindari dominasi-dominasi kehidupan, seperti dominasi terhadap uang, dominasi terhadap perempuan dan dominasi terhadap tingkat pengakuan eksistensi “Penghormatan”. Saya lebur dalam dominasi itu dan banyak orang dan juga pemimpin juga hancur hidupnya dalam dominasi ketiga hal tersebut.

Saat ini saya benar-benar merindukan wejangan yang telah lama hilang itu. Lenyap dimakan waktu dan orientasi kehidupan yang sudah berbeda. Untuk memenuhi kebutuhan wejangan itu supaya jiwa saya tidak kosong dan berpikir sangat tidak rasional kemana-mana saya masih sempatkan mendengarkan dan mencari dan menikmati wejangan-wejangan beliau secara tidak langsung dalam suatu kemajuan teknologi yang sedikit banyak telah membantu saya untuk dapat mendapatkan nya (wejangan itu). Wejangan itu saya dapat temukan dalam penyampaian hikmah-hikmah oleh Mbah Nun (Cak NUN), Gus Mus, Gus Nuril dan Gusdur. Saya percaya kepada riwayat dan sanad pengetahuan mereka serta hikmah yang mereka sampaikan itu masuk dalam hati dan langsung menggema di pikiran dan hidup saya. Garis bawahi bahwa Saya tidak suka dengan orang yang menyampaikan pengetahuan hikmah kehidupan * tetapi bukan orang pesantren atau lulusan pesantren yang moderat, Katakanlah bagi saya, Nahdliyyin.. Cara berpikir mereka sempit, hanya comot-comot teks-teks saja tidak mendalam dan komprehensif, tidak santun dan mengena dihati apa yang disampaikannya. Itu poinnya dan anda harus menghindari orang-orang yang seperti  itu*.

Note: Belajarlah pada kyai yang menyebarkan kedamaian dan cinta NKRI bukan pada google dan ustadz yang baru belajar agama dan hanya tahu terjemah Al-qur’an. Datanglah ke pesantren dan dapatkan ilmu agama yang dalam serta wawasan kebangsaan tentang pentingnya cinta NKRI. Belajarlah sejarah supaya kita tahu perjuangan umat islam dan non islam dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Nanda nursyah Alam