Masuk

Ingat Saya

SEBUAH FILTER DAN HARAPAN BESAR DI TANGAN PENGGIAT SOSIAL MEDIA

Turn backhoax adalah salah satu jargon yang sedang digembor-gemborkan di dunia maya saat ini. Hal ini didasari oleh banyaknya berita-berita bohong dan provokatif yang wari-wiri bersliweran di jagad dunia ketiga setelah dunia nyata dan dunia akhirat.

Mengingat pengguna internet di indonesia yang cukup besar dan menurut penelitian 97% didominasi  oleh kunjungan-kunjungan penggunanya di media sosial semisal facebook, instagram dan youtube, maka harapan dan tugas besar untuk selalu menjaga keharmonisan dan kedamaian negara Indonesia ada di ditangan generasi cerdas seperti yang telah diamanatkan kepada duta damai dan penggiat sosial media. BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) dibawah pemerintahan Jokowi menitipkan amanat ini kepada 200 duta damai dari berbagai penjuru Indonesia agar dapat bekerja sama dan membantu pemerintah untuk mencegah dan mematikan pergerakan dan doktrinasi ajaran-ajaran radikalisme, teroris, dan hoax. Karena itu, jangka panjang dari kegiatan sarasehan nasional dari Duta damai dan penggiat dunia maya ini adalah kedepannya dapat mencegah bonus demografi (generasi muda) dan generasi Z agar tidak terdoktrin ajaran menyimpang dan menjadi generasi yang cerdas.

Acara yang digawangi oleh negara ini mendatangkan duta damai dan penggiat dunia maya dari Jakarta, makasar, bali, aceh, Yogyakarta dan propinsi lainnya dengan menempatkan Yogyakarta sebagai tuan rumah pada tanggal 1-3 maret 2017 di Hotel Alana .

Harapan besar ini tentu tidak akan berjalan lancer jika tidak diiringi oleh para penggiat sosial media lainnya seperti mahasiswa dan pelajar. Oleh sebab itu, kami mengajak para generasi dalam bermedia sosial untuk menyebarkan berita-berita baik dan menyejukkan secara massif guna menghiasi layar-layar dunia maya dan mematikan pergerakan hoax. Hal ini difungsikan juga untuk mencegah dan mematikan pergerakan ajaran-ajaran profokatif dan Radikalisme.

Oleh sebab itu, Ada dua cara ikut andil para pengguna sosial media dalam mengamankan dunia maya dari ancaman para hoaxer dan ajaran radicalism-terorism di 3 media sosial  (facebook, instagram, youtube) yaitu:

  1. Apabila berita itu bohong atau hoax maka segera block konten itu atau biarkan saja, jangan dijadikan menjadi berita viral.
  2. Apabila berita itu benar, maka sebarkanlah dengan pertimbangan jika ada kemanfaatannya bagi semua orang, tetapi jika berita benar itu tidak mengandung manfaat maka sekiranya tidak perlu di share.

Dalam hal ini mengapa ini menjadi bagian penting karena jika kita mengingat teori propaganda yaitu kebohongan-kebohongan yang diulangi secara terus-menerus, maka pikiran manusia akan mempercayainya. Kebohongan pun diterimanya sebagai kebenaran. Pengulangan ini adalah metode hypnosis.

Mulai sekarang, dengan latar belakang itu kami mengajak anda dan seluruh masyarakat Indonesia dimanapun berada, Mari cerdas dalam bermedia, cerdas lawan hoax dan jadilah generasi cinta damai.

Selain itu juga, mari kita berdoa untuk 3 dunia kita saat ini agar selalu khusnul khatimah yaitu: Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa dunia maya hasanah. Semoga tuhan memberkati dan menjaga negara kita agar selalu menjadi negara yang aman, damai dan sejahtera sebagai baldatun thayyibatun warobbun ghafur.

 

Terakhir, Kami merekomendasikan anda dan rekan-rekan pengguna sosial media agar membuat konten-konten positif-bermanfaat dengan membuat akun di (damai.id) untuk membuat web individual ataupun kominitas anda. Dan mari bergabung di komunitas media sosial di facebook yaitu:

  1. Forum anti fitnah, hasut, dan hoax
  2. Indonesia hoax community
  3. Sekoci
  4. Indonesia hoax hoster

Mulai saat ini mari hidupkan jargon-jargon positif sperti #cerdaslawanhoax ataupun #turnbackhoax dan mari kita bergabung sebagai orang-orang baik dan bersatu mengalahkan keburukan yang bersatu yang sedang menghiasi media sosial juga. Mari ciptakan indonesia yang damai dan Jangan biarkan isu Sara memecah belah bangsa kita dengan dalih dan kepentingan apapun. (Damailah INDONESIAKU)

 

Nanda nursyah Alam